Teknologi Pendukung Pertanian Organik

Pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian tanpa bahan-bahan anorganik sintetis dengan tujuan menghasilkan bahan pangan yang tidak terkontaminasi dengan unsur-unsur kimia berbahaya, sehingga relatif aman untuk dikonsumsi dan lingkungan lestari. Pada saat ini, usaha pertanian organik murni belum dapat dilaksanakan secara penuh. Oleh sebab itu diperlukan penelitian yang mengkombinasikan pemakaian pupuk organik dan pupuk kimia secara terpadu untuk mendukung pengembangan sistem usahatani input rendah LEISA (Low External Input for Sustainable Agriculture). 
Sistem ini lebih realistis daripada pertanian organik, karena selain menggunakan input alami dan hayati masih diperbolehkan menggunakan input kimia buatan, seperti pupuk dan pestisida dalam jumlah terbatas selama produk yang dihasilkan aman dan sehat (Budianto, 2002). Dimyati (2002) menyatakan bahwa komoditas yang permintaannya tinggi, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk diekspor, dapat dibudidayakan dengan sistem pertanian LEISA. Untuk komoditas kubis, bit, lobak, bawang merah, cabe dan kentang, sebagian input luar dapat digantikan dengan bahan alami mikroba berguna, biopestisida dan agensia hayati, asalkan produknya masih dikategorikan aman.
Produk sayuran organik diminati konsumen kelas menengah ke atas yang bersedia membayar lebih mahal karena lebih sehat dan aman. Apabila sebagian areal sayuran anorganik dapat dikonversi menjadi kawas-an sayuran organik, maka kompetisi pasar konvensional dapat dihindari, karena pangsa pasar produk sayuran organik berbeda. Sayuran organik dapat diekspor ke Malaysia atau Singapura atau pasar swalayan di dalam negeri. 
Dalam jangka pendek, kemampuan petani untuk mengubah sistem pertanian konvensional menjadi pertanian organik sulit dilakuan. Penyebabnya antara lain karena pertanian organik: 
(i) lingkungan produksi-nya harus bebas dari cemaran bahan kimia berbahaya (pupuk dan obat-obatan); 
(ii) hasil per satuan luas relatif rendah, sehingga pendapatan usahatani berkurang; 
(iii) belum ada insentif harga yang memadai sebagai kompensasi diterapkannya pertanian organik; dan 
(iv) umumnya konsumen lokal belum berorientasi produk organik.
Beberapa konsepsi mendasar yang diuraikan dalam tulisan ini dirangkum dari beberapa referensi yang relevan dengan kebijakan pengembangan sayuran organik, khususnya tentang teknologi yang dapat diaplikasikan di lapangan. Dengan tersedianya dukungan informasi tentang pertanian organik dan teknologi yang dibutuhkan, maka program pengembangan sayuran organik  diharapkan akan bisa diaktualisasikan.
PERTANIAN ORGANIK 
Gaya hidup sehat dengan slogan back to nature telah menjadi pola hidup baru, meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia seperti pupuk kimia, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan, yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan.
Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes), dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebab-kan permintaan akan produk pertanian or-ganik dunia meningkat pesat. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20%/ tahun. Oleh karena itu, pengembangan budidaya pertanian organik perlu diproritaskan pada tanaman bernilai ekonomi tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor (Badan Litbang Pertanian, 2002).
Untuk melaksanakan pertanian organik, perlu adanya suatu acuan mulai dari tahap budidaya sampai diperolehnya produk yang sesuai ketentuan dan memenuhi persyaratan sebagai produk pertanian organik (Wi-naryo, 2002). Prinsip pertanian organik yang perlu dipertimbangkan dalam merancang suatu kawasan atau teknologi adalah: 
(i) Lahan untuk budidaya organik harus bebas dari pencemaran bahan agrokimia dari pupuk dan pestisida. Lahan dapat berupa lahan pertanian yang baru dibuka atau lahan pertanian intensif yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian organik. Lamanya masa konversi tergantung pada sejarah penggunaan lahan, pupuk, pestisida, dan jenis tanaman; 
(ii) Menghindari benih/bibit hasil rekayasa genetik atau genetically modified organism (GMO). Sebaiknya benih harus berasal dari kebun pertanian organik; 
(iii) Menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis dan zat pengatur tumbuh. Peningkatan kesuburan tanah dilakukan melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam, dan rotasi dengan tanaman legum; 
(iv) Menghindari penggunaan pestisida kimia sintetis, pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan dengan cara manual, biopestisida, agen hayati, dan rotasi tanaman; 
(v) Menghin dari penggunaan hormon tumbuh dan bahan aditif sintetis pada pakan ternak dan secara tidak langsung pada pupuk kandang; dan 
(vi) Penanganan pascapanen dan pengawetan bahan pangan menggunakan cara-cara alami (Badan Litbang Pertanian, 2005).
TEKNOLOGI PENDUKUNG PERTANIAN ORGANIK 
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura dengan Balai Penelitian Sayur-an (Balitsa) Lembang dan beberapa BPTP sebagai UPT Badan Litbang Pertanian di daerah telah melakukan berbagai kegiatan penelitian/pengkajian untuk mendukung program pertanian organik sejalan dengan pencanganan pertanian organik 2010. Dim-yati (2002) menguraikan beberapa hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan dalam budidaya tanaman hortikultura, khususnya sayuran, yaitu:
1. Teknologi Budidaya LEISA
Teknologi ini merupakan cara pengelolaan produksi tanaman yang menyeluruh dengan menggunakan input luar yang rendah, sehingga dapat menjamin produk yang bersih. Bahan agrokimia sintetis masih digunakan dalam jumlah yang terbatas, sehingga tidak menimbulkan residu melebihi ambang batas yang diizinkan, tetapi belum memenuhi kriteria untuk disertifikasi sebagai pertanian organik. Komponen teknologi LEISA terdiri dari: pengolahan tanah dalam, sanitasi, penggunaan mulsa plastik hitam perak, penggunaan pupuk kandang 30 t/ha dan NPK 1 t/ha, serta penggunaan pestisida bergilir antara agonal (biologis, nabati) dan insektisida sintetis.
2. Pembenah Tanah Hayati
Selain pupuk kandang yang merupakan bahan pembenah tanah, beberapa mikroba dapat berperan sebagai agensia yang dapat membantu peningkatan kesuburan tanah melalui fungsi-fungsi tertentu. Salah satu dari mikroba itu adalah cendawan mikoriza yang hidup di dalam atau di luar sistem perakaran. Fungsi utama dari cendawan adalah meningkatkan daya serap akar tanaman terhadap hara. Beberapa jenis mikroba, secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat mempercepat proses pelapukan bahan organik, sehingga dapat segera memperbaiki porsi bahan organik di dalam tanah dan segera mengurangi efek samping dari limbah pertanian.
3. Pestisida Hayati
Ada beberapa macam pestisida yang dikembangkan dari senyawa beracun yang berasal dari bahan tanaman, binatang atau mikroba, namun yang paling sederhana adalah pestisida yang dibuat dari: 
(i) Bagian tertentu dari berbagai jenis tumbuhan, misalnya agonal yang dibuat dari campuran perasan daun nimba, rimpang lengkuas, dan serai wangi. Ekstrak daun Aglalia odorata dan biji sirsak juga dapat dijadi-kan insektisida berspektrum cukup luas; 
(ii) Garnulosis virus (GV), diketahui bersifat racun perut yang dapat mengendalikan populasi penggerek umbi kentang (Phytho-primaea operculella Zell). Virus tersebut telah dikemas dalam bentuk tepung dengan nama BiaRIV-1 yang efektif mengu-rangi kerusakan umbi dan menekan popu
lasi hama sampai 90%. Virus yang lain adalah Nuclear Polyhedrosis virus pada Spodoptera exigua yang disingkat SeNPV dengan konsentrasi 4,8 x 1010 PIB/g dan dosis 1 kg/ha dapat menurunkan populasi ulat grayak dan mengurangi kerusakan daun pada bawang merah. 
Bahkan ulat grayak yang telah menunjukkan resistensi terhadap insektisida kimia tertentu masih dapat ditekan oleh SeNPV. SeNPV dikemas dengan nama BiaRIV-2 dan juga bersifat racun perut. Untuk pengendalian penyakit Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada cabe dan tomat dapat digunakan rantai RNA no-mor 5 yang berasosiasi dengan CMV terse-but. Bahan ini dikenal dengan nama CARNA-5 (CMV Associated RNA-5) dapat berfungsi membatasi perbanyakan CMV, se-hingga tingkat kerusakan yang ditimbulkan-nya tidak sampai merugikan. Cabe dan to-mat yang diberi perlakuan CARNA-5 mampu bertahan terhadap serangan CMV dan tetap memberikan hasil seperti tanaman yang sehat. CARNA-5 dikemas dengan nama BiaRIV-3. Bahan toksik yang menyerang sis-tem syaraf pada serangga dikeluarkan oleh jenis laba-laba tertentu; 
(iii) Bahan yang disebut sebagai novel venom toxic dapat diisolasi, dipurifikasi dan dilarutkan dalam zat pelarut oganik tertentu sebagai carrier untuk digunakan sebagai pestisida yang efektif untuk mengendalikan hama Heli-cobverva armigera pada tomat dan kubis.
BPTP NAD (2005) mendefenisikan bahwa pestisida nabati adalah pestisida yang berbahan baku tanaman, relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Oleh karena terbuat dari bahan alami, maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang. Pestisida nabati bersifat pukul dan lari (hit and run), artinya apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu dan setelah hamanya terbunuh residunya cepat hilang. Cara kerja dari pestisida nabati dapat be-rupa pencegah makan (antifeedant), racun (biotoxin) atau sebagai penolak makan (repellent). Kebanyakan dari senyawa biotoksin merupakan senyawa metabolit sekunder spesies tanaman dari famili Anno-naceae (nenas, sirsak, buah nona, sarikaya), Asteraceae (pyrethrum, wedusan), Canellaceae, Labiateae, Meliaceae (nimba, mindi), Piperaceae (Citurs spp), dan Rutaceae.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan pestisida nabati berasal dari beberapa bagian tumbuhan seperti daun, biji/buah, dan akar. Dalam aplikasinya dapat berupa serbuk atau larutan yang disemprotkan langsung ke tanaman. Beberapa tumbuhan yang telah dikenal dan dipakai sebagai bahan baku pestisida nabati, antara lain: 
 (1) Nimba (Azadiracha indica), ekstraknya ternyata memiliki daya racun terhadap hama kubis (Plutella xylostella) apabila diperlakukan dengan cara olesan dan pencelupan. Selain itu juga dapat menekan laju proses penetasan telur dan mampu menekan infektifitas larva nematoda bintil akar (Meloidogyne spp), efektif untuk mengendalikan berbagai hama Phaedonia inclusa, Crocidolomia binotalis (hama kacang-kacangan), bahkan jamur Rhizoctonia solani; 
(2) Lantana (Lantana camara), serbuk keringnya apabila ditaburkan merata di atas umbi kentang, ternyata mampu meno-lak kehadiran hama penggerek umbi (Phy-thoprimaeae operculella); 
(3) Buah nona (Annona reticulata), merupakan racun kontak yang dapat mengendalikan hama kubis (Plutella xylostella) dan ulat grayak (Spo-doptera litura); 
(4) Srikaya (Annona squamosa), merupakan racun kontak yang dapat mengendalikan wereng coklat (Nila-parvata lugens), nyamuk Aedes aegeypti, hama kubis, dan tikus sawah; 
(5) Sereh dan sereh wangi (Cymbopogon citratus dan C. nardus), dapat menekan perkembangan ku-tu daun jeruk, penggorok daun jeruk, ke-pik, lalat buah dan tungau; 
(6) Cengkeh (S. aromaticum), biotoksinnya mampu mengendalikan jamur Phytophthora capsici, P. palmivora, layu bakteri (Pseudomonas solanacearum), penyakit layu (Fusarium oxysporum) dan jamur pada tanaman kentang (Rhizoctonia solani). Apabila pestisida tersebut di atas dapat digunakan secara praktis oleh petani, maka dampak negatif aplikasi pestisida sintetis dapat dihindari. Dalam 5 tahun terakhir Ballitro telah menghasilkan pula formula dan produk pestisida nabati dari tanaman piretrum, cengkeh (Mitol 25 EC dan Natpes), nimba, atraktan nabati, selasih (Ocimol) dan mela-leuca (Melanol). Sebagian di antara produk tersebut telah diadopsi oleh petani (Rizal et al., 2006).
4. Tanaman, Alat dan Bahan Perangkap Hama

 PUPUK HAYATI BIOBOOS TEKNOLOGI UNTUK PERTANIAN ORGANIK

Hama tertentu tertarik pada aroma atau warna tertentu. Beberapa jenis tanaman ternyata mengandung aroma yang dapat menarik dan menjadi inang yang baik bagi hama tertentu, sehingga bila ditanam bersamaan dengan tanaman budidaya dapat mengurangi serangan hama pada tanaman utama. Pagetes erecta dapat menarik hama Helicoverpa armigera dan Spodoptera litura yang menyerang cabe, tomat, bawang daun dan tanaman dari jenis kubis-kubisan dan dapat menjadi perangkap untuk Myzus persicae yang menyerang kentang, dan Brassica juncea dapat menjadi perangkap hama Crocidolomia dan Plutella pada kubis. Tanaman yang menolak hama antara lain bawang daun yang menolak Trips dan tomat menolak oviposisi Crocidolomia, keduanya adalah hama penting pada kubis.
Hama pengorok daun Lyriomiza huidobrensis yang menyerang berbagai jenis tanaman tertarik pada warna kuning. Fenomena ini dapat dimanfaatkan untuk menciptakan alat perangkap sebagai cara memonitor populasi hama tersebut dan bahkan mengurangi tingkat serangannya pada tanaman. Serangga jantan dari beberapa jenis hama tertarik oleh feromon atau bahan yang menyerupainya seperti methyl eugenol. Methyl eugenol dapat digunakan sebagai bahan penarik serangga jantan lalat buah. Khusus pengendalian Lyriomiza huidobrensis yang menjadi hama utama tanaman kentang,   Teknis pengendalian yang direkomendasikan oleh BPTP Sumbar (2002) terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: 
(i) Menciptakan tanaman sehat dengan jalan menggunakan bibit sehat, pengolahan tanah, pemupukan dan pem-bumbunan yang baik, serta pemilihan waktu dan jarak tanam yang tepat; 
(ii) Sanitasi lahan, membersihkan lahan dari sisa ta-naman kentang, buncis, bawang merah, kubis serta inang utama seperti Biden pilosa, Ageratum conyzoides, Sonchus oleraceous, Physalis angulata, dan Gynora crepidiodes; 
(iii) Penggunaan perangkap; dan 
(iv) Penggunaan insektisida biologi seperti abamectin, cyosine, dan khlourfluazuron, terutama bila populasi lalat mencapai ambang kendali (2 ekor larva/ helai daun).
5. Pupuk Hayati
Pupuk-pupuk hayati dikembangkan dengan memanfaatkan mikroorganisme yang hidup secara simbiotik maupun bebas (non-simbiotik). Kelompoknya adalah: 
(1) Penambat Nitrogen Simbiotik, memanfaat-kan mikroorganisme Rhizobium, Bradyrhi-zobium, Azorhizobium, Sinorhizobium, Mersorhizobium (sistem simbiosis legume), Anabaena azollae (simbiosis azolla) dan Frankia sp (simbiosis non legum); 
(2) Penambat Nitrogen Non Simbiotik, antara lain Azotobacter, Azospirillum, Clostridium, Klebsiella, dan Ganggang biru-hijau (sistem hidup bebas); 
(3) Jamur Mikoriza, seperti Acaulospora, Entrophospora, Gigaspora, Glomus, Selerocystis, dan Scutellospora (sistem simbiosis berbagai endomikoriza tanaman); serta 
(4) Mikroorganisme Pelarut Fosfat, antara lain: bakteri Bacillus, Pseudomonas, jamur Aspergillus, Penicillium, dan Aktinomiset Sterptomyces (sistem hidup bebas).
Beberapa jenis pupuk hayati yang telah dikembangkan adalah: 

pupuk mikroba multiguna Rhizoplus, Biofosfat, dan Biolestari. Rhizoplus dapat meningkatkan efi-siensi unsur hara N dan P pada tanaman kedelai, Biofosfat dapat meningkatkan ke-tersediaan unsur hara P, sedangkan Biolestari merupakan perbaikan dari Rhizoplus. Pupuk hayati lainnya adalah Mikofosfat yang dapat meningkatkan serapan hara P pada tanah-tanah kahat P serta unsur hara Zn dan S. Pupuk ini juga dapat menghindari cekaman kekeringan dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit dalam tanah. Telah dikembangkan pula Bioaktivator Perombak Limbah Pertanian (ORLATAN) yang bermanfaat sebagai pemicu proses dekomposisi limbah pertanian (Partohar-djono, 2002).
6. Pemanfaatan Trichoderma harzianum sebagai dekomposer dalam pembuatan kompos jerami sudah direkomendasikan oleh BPTP Sumbar tahun 2000. Keunggulannya adalah: kompos sudah matang dalam waktu 3 minggu, bahan bersifat insitu, starter bisa diperbanyak oleh petani sen-diri, setiap ton kompos mengandung hara makro N 11%; P2O5 0,64%; K2O 7-9,9%; Ca 4,2%; Mg 0,52% serta hara mikro Cu 20 ppm, Zn 144 ppm, dan Mn 684 ppm.
Husnain et al. (2004) menyimpulkan bahwa sistem budidaya pertanian organik yang didukung oleh pemberian bahan orga-nik baik berupa kompos, pupuk organik maupun bahan organik segar dapat mem-perbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah. Perubahan sifat fisik dan kimia ta-nah terutama tekstur, pH, C-organik, N-to-tal, C/N, P tersedia, KTK, dan beberapa kation basa. Rata-rata nilai beberapa parameter penting untuk menilai kesuburan tanah pada sistem pertanian organik adalah: 
pH (5,80-5,94), C-organik (2,30-3,43%), P Bray II (9-47 me/100 g), K-total (28,13-160,12 me/100 g), Ca-dd (8,25-18,43 me/ 100 g), dan Mg-dd (1,15-3,94 me/100 g), sedangkan pada sistem pertanian konven-sional (non organik) adalah: pH (5,18), C-organik (1,84%), P Bray II (5,33-29,15 me/ 100 g), K-total (20,11-100,14 me/100 g), Ca-dd (1,89-6,62 mg/100 g), dan Mg-dd (0,10-1,11 me/100 g).
Kandungan mikroba tanah terdiri atas: Azotobacter, Actinomy-cetes, Rhizobium, dan Penicillium yang menunjukkan populasi lebih tinggi pada sistem pertanian organik dibanding pertanian konvensional.

Salam Pertanian Organik dan Sukses Selalu....